Phhhuuihh... pagi ini, bangun agak kesiangan. Setelah memperbaiki diri sendiri sejenak, gue beranjak ke home base gue yang engga jauh dari rumah. Sekitar jam 9.30 WIB, anak-anak udah pada datang, gue masih agak males-malesan. Sekitar jam 10.00 WIB, datang seseorang wanita muda, sebut aja namanya Mamanya si Z. Biasanya dia menemani anak asuhnya untuk bermain. Seperti biasanya kami mengobrol, awalnya dia nanya apakah gue mengetahui soal IC (sejenis komponen elektronika). Gue jawab sekenanya bahwa IC itu biasa harganya mahal.
"Emang kenapa mbak ?" tanya gue
"Itu kemarin abis betulin TV, kok engga berapa lama udah diservis kok rusak lagi" jawabnya
"Oooh gitu, emang siapa yang benerin ?" tanya gue
"Itu tetangga saya" katanya
Rumah Mamanya si Z ini emang agak jauh dari tempat usaha gue, dan disekitarnya tidak ada tempat servis TV.
"Mungkin diboongin mbak" kata gue sekenanya
"Lho gimana, engga diboongin, orang dia yang cerita" kata Mamanya si Z
"Jadi bukan tetangga mbak yang servis ? tanya gue bingung
"Engga, yang punya TV itu tetangga saya, trus dibenerin TV disitu... tuh diujung sana" (seraya dia menunjuk ke depan).
"Masak baru seminggu diservis udah rusak lagi" lanjutnya ketus
Memang dari tempat gue yang tepat berada di siku jalan terlihat tempat servis TV tersebut. Dan tempat itu memang baru sekitar sebulan ada daerah ini.
"Ooohh... disitu" jawab gue.
Abis nih dalam hati..... panjang nih urusannya. Tahu kenapa ???
Di tempat gue itu ada 3 ruangan, yaitu ruang depan, ruang tengah dan ruang belakang. Kecuali ruang belakang, kedua tempat lainnya gue gunakan sebagai tempat usaha. Nah tempat gue ngobrol itu di sebelah depan yang dapat melihat kearah jalan. Sedangkan di ruang tengah, ada beberapa orang yang sedang bermain, dan... SALAH SATUNYA anak tertua (laki-laki) dari empunya servis TV tadi. Usianya mungkin sekitar 19-20 tahun, yaaah... bisa dibilang anak muda. Dan anak muda biasanya "darahnya juga muda". Panjang kan urusannya.
Dalam hati gue mulai diliputi kerisauan, apa yang harus gue lakukan atau apa yang harus gue ucapkan ??? Gue berusaha untuk memberi kode pada ibu muda ini, tapi sayangnya usaha gue sia-sia. Pindah topik obrolan, sulit. Gimana engga sulit wong gue harus dengerin curhat seseorang yang merasa dibohongi, yang keluar bagai senapan mesin. Kalo engga gue tanggapin juga engga enak, wong orang curhat masa di engga ditanggapin. Klo ditanggapin... anak muda itu masih merah kupingnya atau bisa-bisa ada Perang Lokal nih ditempat gue. Duuuh.... mana banyak anak-anak kecil. Akhirnya gue menanggapi secara hati-hati curhatan Mamanya si Z, sangat hati-hati walaupun gue akui ada beberapa pernyataan yang salah juga (setelah gue pikirkan beberapa saat kemudian).
Sekitar 10 menit (waktu yang cukup lama untuk menjaga perasaan seseorang yang ayahnya dijelek-jelekkan), gue coba mendengarkan sekaligus mengarahkan pertanyaan dan pernyataan ke arah yang lebih netral. Seperti bagaimana kondisi TV-nya mungkin sudah uzur atau mungkin IC-nya sulit ditemukan dan lain sebagainya tanpa sebaik mungkin menghindari pernyataan yang menyudutkan pelayanan servis TV yang jelas-jelas ada salah satu keluarganya dan HANYA 3 METER dari kami bicara. Tanpa sengaja gue sempat melihat, sekilas kepala si anak muda ini melihat dari ruang tengah ke arah ruang depan. Gue yakin dia ingin tahu siapa yang buat panas hatinya. Kebetulan posisi duduk saat itu gue mengarah ke ruang tengah (emang sengaja !!!) dan Mamanya si Z ini melihat ke arah pintu masuk, jadi dia tidak melihat gerakan anak muda tadi.
Setelah anak yang diasuhnya selesai, ibu muda ini pun beranjak pergi. Dan gue ??? Di depan layar monitor komputer, gue berusaha melanjutkan desain-desain yang belum selesai. Taoi, kok mentok yah... Jujur awalnya, perasaan gak enak itu karena gue mementingkan usaha. Keduanya merupakan konsumen dan konsumen itu bagaimanapun caranya harus dijaga, tidak boleh ada yang hilang. Tapi ada satu hal lain yang buat hati gue engga enak, satu hal itu adalah bagaimana perasaan gue kalau disakiti dengan cara seperti itu ??? Masih gue merasa sangat marah. Hmmm... gue harus melakukan sesuatu, mengguyur segayung air dingin keatas kepala yang panas, tentunya pasti basah :). Bagaimana caranya ??? Gue mencoba beranjak ke ruang tengah, pura-pura mengecek keadaan, trus secara becanda gue nyeletuk .... "Bokap loe diomongin tuh tadi". Tapi gak ditanggapi sama anak muda ini. Gawat dalam hati... trus gue balik ke depan komputer untuk mencoba melanjutkan kerjaan. Lagi-lagi bukannya membaik malah makin ga enak... Wuaaaah cara ringan gak mempan nih... Lama gue terdiam sambil mencoba berpikir apa yang harus dilakukan.
Sudahlah gue minta maaf aja... begitu pikir gue pendek. Tapi tunggu dulu, tadi bukan kesalahan gue. Masak gue yang harus minta maaf. Lama gue tercenung, berpikir betapa gak enaknya minta maaf. Untuk kesalahan kita saja seringkali berat tapi ini untuk kesalahan orang lain. Akhirnya kata-kata ini melintas di benak gue : "Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". Gue tersenyum, bukankah itu pengalaman lagi buat gue... kenapa tidak ???
Phhh... gue harus ngomong ama tuh anak, tapi kali ini dengan hati. Beberapa saat gue menunggu waktu yang tepat untuk bicara, gue harus jaga perasaannya. Kalau sudah sepi baru gue ajak ngomong. Sekitar 30 menit waktu itu tiba, gue beranjak ke ruang tengah. Gue duduk trus membuka pembicaraan...
"Maaf yah... kalau tadi loe harus mendengar obrolan tadi"
Dia tidak langsung menjawab
"Tadi loe udah dengarkan, orangtua loe diomongin ?" tanya gue
"Iya sih, cuman kan bokap gue udah kasih tau TV-nya udah tua. Trus IC-nya itu kebetulan gue sendiri yang beli di Rawa Kopi dan itu baru. Emang TV-nya aja yang udah tua" kata dia meyakinkan
"Iya, gue tau kok. Gitulah klo kita buka usaha, orangtua loe, gue atau orang lain. Kalo pelayanan kita jelek pasti diomongin orang" jawab gue berusaha sehalus mungkin.
Gue melihat ada kegeraman di matanya. Dia pun berusaha meyakinkan gue bahwa dia dan bapaknya menjalankan usaha dengan jujur. Gue tahu dia engga mau keluarganya dipermalukan dan itu sangat-sangat menyakitkan. Menyakitkan bukan hanya menyakiti perasaan tapi lebih dari itu karena itu tempat mencari nafkah. Bagaimana kalau di daerah ini tidak percaya lagi dengan usaha bapaknya. Oh... Lord, i'm understand now.
Sejenak, ada perasaan tenang dalam diri gue. Yaah, minta maaf memang sulit, tapi setelah itu seperti ada air dingin yang menyiram kepala gue. You know what... setelah itu adik laki-lakinya datang dan diberi tambahan duit untuk main di unit yang lain. Saat gue masih menulis ini kedua bersaudara itu masih bermain, paling engga, gue udah bisa mendengar suara mereka bercanda. Gue engga tahu nanti, lusa... atau kapan pun, apakah anak muda ini akan menceritakan peristiwa ini kepada keluarganya terutama ayahnya atau nanti melarang untuk kembali tempat gue. Gue hanya berharap bahwa dia belajar bahwa seringkali kita harus menerima keluhan, kritik bahkan cemoohan orang. Namun satu hal bahwa perlu jiwa besar disana atau dalam bahasa gue kasih.
Hari ini gue kembali belajar :
- Bahwa teramat sulit menempatkan diri, ketika mendapati diri kita mendengarkan curhat seseorang sedangkan subyeknya berada di sekitar kita.
- Untuk meminta maaf bukan karena kesalahan yang gue lakukan tapi oleh orang lain. Hal itu ternyata cukup sulit.
- Bahwa apa yang kita keluarkan dari mulut, bisa fatal akibatnya tanpa disadari.
Tak seorang pun dapat memahami hati manusia kecuali jika dia memiliki simpati yang didasari oleh kasih - Henry Ward Beecher
with respect
:> ANTz



0 comments:
Post a Comment