wibiya widget

rss

site INDICATOR

Social Bookmarking

my THOUGHT

Apakah salah menegur orang yang mengambil buah mangga di pekarangan rumah kita ? Apakah salah menegur teman yang meminjam barang kita namun tidak kunjung dikembalikan ? Apakah salah menuntut hak cipta dari sebuah karya yang kita buat ? Lalu dimana salahnya, MENGULTIMATUM NEGARA TETANGGA yang gemar mengusik ketenteraman negara kita ? Semut saja akan marah apabila diusik, apakah bangsa ini berada dibawah bangsa semut ?

AROUND me

Sunday, July 05, 2009

Dimana Pialaku ?

ANTz wrote 8:58 AM 7/5/2009

Ketika itu aku sedang berlari
Berlari... berlari...
dan terus berlari...
Nun jauh disana,
aku melihat sebuah piala
Aku tersenyum, yah... piala itu
Dan aku terus berlari...
Hingga mendapatkannya

Braaaak... Bummmm...
Aku mendapati diriku terpelanting
jatuh hingga terduduk
Aku melihat sekelilingku
Tidak ada... tidak ada... sesuatupun
Sejenak aku terdiam
Akh... mungkin hanya khayalan
Aku melihat pialaku,
bersinar diguyur mentari
Aku kembali bangkit
Duuug... terjatuh
Aku mencoba bangun
Braaaak... kembali jatuh
Dan untuk kesekian kalinya
Bummmm...
Aku terhempas...
terhempas hingga memeluk bumi

Mentari terus berputar
Dan bulan pun datang kembali
Kedua penguasa datang silih berganti
Aku mendapati diriku masih memeluk bumi

Beragam manusia melewatiku
menuju piala mereka masing-masing
Riang raut muka terpancar erat
kaum muda...
kaum paruh baya...
jompo manula...
teruna-teruna...
Bercengkrama, memimpikan asa

Aku masih terbenam disana
gundah gulana memecah langit
merutuki ketidaknyanaan
keluh kesah menggapai Penguasa

Hingga mahluk-mahluk itu datang
mencandaiku, mengajakku bermain...
Di tengah lelapku
aku bermain,
menikmati kembali masa kecilku
Di tengah gundahku
aku bermimpi,
memimpikan bintang di langit
Di mana pialaku ?
Aku tidak melihatnya lagi
Aku tidak peduli lagi

Kami terus bermain
mencari hal-hal baru
berburu petualangan lain
menikmati kegembiraan

Akh... aku melupakan segalanya
Aku terseret dalam kepolosan
Aku terhanyut dalam keluguan
Seakan hari tidak pernah habis

Sampai di satu masa
Aku mendapati diriku
Berdiri...
Berjalan...
Tertatih...

Akh... piala itu kembali terlihat
Beragam manusia berlaku sama
Terhipnotis oleh keberadaan
kedagingan kembali merasuk
Aku ingin berlari...
Berlari... yah.. berlari...
TIDAK, aku tidak ingin berlari lagi
Aku ingin terbang...
benar... terbang
seperti rajawali
perkasa menantang langit

Aku melupakan segalanya
piala itu kembali membiusku
melayang mengawang-awang
melupakan apa yang ada dalam tubuhku
ketidaksempurnaan yang absolut

Aku lupa
bahwa aku bisa terjatuh
Aku lupa
bahwa aku bisa terjerembab
Aku lupa
bahwa aku bisa terkulai

Aku lupa dari semuannya itu
bahwa di dalam kelemahanku
kuasa-Nya menjadi sempurna

Piala itu tetap menggodaku
mengajarku menyadari segala sesuatu
ketenangan adalah senjataku
kesabaran adalah perisaiku
kegembiraan adalah obatku
kelemahan adalah kekuatanku

Saat aku perkasa, aku akan terbang
Saat aku kuat, aku akan berlari
Saat aku lemah, aku akan berjalan
Saat aku sakit, aku akan berdiam

Kemanakah aku dapat pergi
menjauhi sang Penguasa
Jika aku mendaki ke langit,
Engkau ada di sana
Jika aku terbang dengan sayap fajar,
Engkau akan menuntun aku,
Jika aku membuat kediaman di ujung laut,
Engkau memegang aku.


with respect

:> ANTz
Read More :>

Friday, July 03, 2009

Bebe's Dance

Little Body Shake
perform by Bebe (3 years old)
choreographer by nobody
shoot by his uncle

with respect
:> ANTz

Read More :>

Flu Babi (Swine Influenza)

ANTz wrote 6:59 PM 4/28/2009

Tulisan ini gue buat karena awalnya pengen tahu tentang kabar Flu Babi, mengingat pengalaman Flu Burung yang sudah terlanjur masuk ke negeri tercinta ini maka gue mencari informasi dari beberapa situs yang cukup terpercaya. Karena bahasa Inggris yang agak terbatas mohon maaf apabila ada kesalahan penerjemahan.

Ini beberapa update terakhir yang gue ambil dari beberapa sources diantaranya :
Sayang untuk situs WHO Indonesia yakni : http://www.who.or.id/ind/index.asp. BELUM atau TIDAK ADA informasi yang memadai.

BERIKUT RANGKUMANNYA :
Flu babi adalah kasus-kasus influensa yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenzavirus C atau subtipe genus Influenzavirus A.

Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia. Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian. Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1, H1N2, H3N1, H3N2, and H2N3.

Di Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agusuts 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi.

PETA PENYEBARAN :

  • hitam : dipastikan ada kasus dengan kematian
  • merah : dipastikan ada kasus
  • jingga : belum dipastikan atau dicurigai ada kasus
INFORMASI LAIN :
  • negara-negara yang sudah ter-identifikasi : Mexico, United States, Canada, New Zealand, Spain, Israel & Chile
  • contact number : +41 22 7912222 (WHO headquarter / internasional call)
  • dokumentasi lengkap [pdf file 57kb] : http://www.who.int/entity/csr/swine_flu/swine_flu_faq.pdf

SEDANGKAN ini pernyataan dari pemerintah Indonesia :

“Yang terjangkit itu gabungan antara flu babi biasa, flu babi asia yang telah bermutasi. Sudah ada konfirmasi, flu babi terjadi pada negara yang beriklim subtropis dan 4 musim. Belum ada ditemui flu babi di daerah negara tropis. Jadi kita tidak perlu panik,” papar Menko Kesra Aburizal Bakrie.

Hal ini disampaikan pria yang akrab disapa Ical dalam jumpa pers usai rapat koordinasi di kantor Menko Kesra, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2009).

Dalam kesempatan yang sama, Menkes Siti Fadilah Supari menambahkan angka kematian H5N1 (flu burung) akan jauh lebih tinggi 80 sampai 90 persen dibanding H1N1 (flu babi) yang hanya berkisar pada 6,4 persen.

“Itu terjadi pada musim gugur dan musim dingin. Kan negara kita sudah panas terus. Jadi tidak usah panik,” ujar Siti.

HANYA SAJA dari website

http://www.pork.org/PorkScience/Documents/PUBLICHEALTH%20influenza.pdf, ditemukan kalimat ini : “The focus of such reassortment has historically been in Southeast Asia, the proposed “influenza epicenter,” because agricultural practices in this region brought pigs, people and ducks into close contact with one another. However, it is now clear that influenza virus reassortment in pigs can occur anywhere in the world, as evidenced by reassortant viruses isolated from pigs in Europe and, most recently, in the United States.”

DAN DARI SITUS INI

http://www.cdc.gov/swineflu/key_facts.htm, kembali terdapat fakta; “In September 1988, a previously healthy 32-year-old pregnant woman was hospitalized for pneumonia and died 8 days later. A swine H1N1 flu virus was detected. Four days before getting sick, the patient visited a county fair swine exhibition where there was widespread influenza-like illness among the swine.”

POINNYA ADALAH :

  • Negara-negara di Asia Tenggara ditengarai sebagai “episentrum atau pusat influenza”
  • Hewan ternak atau peliharaan terdapat diseluruh dunia jadi kemungkinan terjadi kasus tetap ada.
  • Walaupun tidak pernah terjadi musim gugur atau musim dingin penularan dari manusia ke manusia bisa terjadi walaupun faktanya masih sedikit.
  • Tindakan preventif mungkin lebih baik sebelum terjadi wabah. Dari sumber yang ada diketahui bahwa virus akan terus bermutasi menjadi jenis lain yang bisa saja lebih membahayakan.


with respect

:> ANTz


Read More :>

Work Very Hard – Play None



Gambar ini adalah seorang pemulung yang sudah cukup berumur. Beliau hampir tiap hari melintasi tempat gue. Dibanding pemulung lain yang sering lewat, karung bawaan bapak hampir dipastikan selalu penuh. Karena penasaran maka gue ambil gambar beliau. Salut buat bapak !!


with respect

:> ANTz

Read More :>

Serba Salah

ANTz wrote 11:09 AM 4/27/2009

Phhhuuihh... pagi ini, bangun agak kesiangan. Setelah memperbaiki diri sendiri sejenak, gue beranjak ke home base gue yang engga jauh dari rumah. Sekitar jam 9.30 WIB, anak-anak udah pada datang, gue masih agak males-malesan. Sekitar jam 10.00 WIB, datang seseorang wanita muda, sebut aja namanya Mamanya si Z. Biasanya dia menemani anak asuhnya untuk bermain. Seperti biasanya kami mengobrol, awalnya dia nanya apakah gue mengetahui soal IC (sejenis komponen elektronika). Gue jawab sekenanya bahwa IC itu biasa harganya mahal.

"Emang kenapa mbak ?" tanya gue
"Itu kemarin abis betulin TV, kok engga berapa lama udah diservis kok rusak lagi" jawabnya
"Oooh gitu, emang siapa yang benerin ?" tanya gue
"Itu tetangga saya" katanya

Rumah Mamanya si Z ini emang agak jauh dari tempat usaha gue, dan disekitarnya tidak ada tempat servis TV.

"Mungkin diboongin mbak" kata gue sekenanya
"Lho gimana, engga diboongin, orang dia yang cerita" kata Mamanya si Z
"Jadi bukan tetangga mbak yang servis ? tanya gue bingung
"Engga, yang punya TV itu tetangga saya, trus dibenerin TV disitu... tuh diujung sana" (seraya dia menunjuk ke depan).
"Masak baru seminggu diservis udah rusak lagi" lanjutnya ketus

Memang dari tempat gue yang tepat berada di siku jalan terlihat tempat servis TV tersebut. Dan tempat itu memang baru sekitar sebulan ada daerah ini.

"Ooohh... disitu" jawab gue.
Abis nih dalam hati..... panjang nih urusannya. Tahu kenapa ???
Di tempat gue itu ada 3 ruangan, yaitu ruang depan, ruang tengah dan ruang belakang. Kecuali ruang belakang, kedua tempat lainnya gue gunakan sebagai tempat usaha. Nah tempat gue ngobrol itu di sebelah depan yang dapat melihat kearah jalan. Sedangkan di ruang tengah, ada beberapa orang yang sedang bermain, dan... SALAH SATUNYA anak tertua (laki-laki) dari empunya servis TV tadi. Usianya mungkin sekitar 19-20 tahun, yaaah... bisa dibilang anak muda. Dan anak muda biasanya "darahnya juga muda". Panjang kan urusannya.

Dalam hati gue mulai diliputi kerisauan, apa yang harus gue lakukan atau apa yang harus gue ucapkan ??? Gue berusaha untuk memberi kode pada ibu muda ini, tapi sayangnya usaha gue sia-sia. Pindah topik obrolan, sulit. Gimana engga sulit wong gue harus dengerin curhat seseorang yang merasa dibohongi, yang keluar bagai senapan mesin. Kalo engga gue tanggapin juga engga enak, wong orang curhat masa di engga ditanggapin. Klo ditanggapin... anak muda itu masih merah kupingnya atau bisa-bisa ada Perang Lokal nih ditempat gue. Duuuh.... mana banyak anak-anak kecil. Akhirnya gue menanggapi secara hati-hati curhatan Mamanya si Z, sangat hati-hati walaupun gue akui ada beberapa pernyataan yang salah juga (setelah gue pikirkan beberapa saat kemudian).

Sekitar 10 menit (waktu yang cukup lama untuk menjaga perasaan seseorang yang ayahnya dijelek-jelekkan), gue coba mendengarkan sekaligus mengarahkan pertanyaan dan pernyataan ke arah yang lebih netral. Seperti bagaimana kondisi TV-nya mungkin sudah uzur atau mungkin IC-nya sulit ditemukan dan lain sebagainya tanpa sebaik mungkin menghindari pernyataan yang menyudutkan pelayanan servis TV yang jelas-jelas ada salah satu keluarganya dan HANYA 3 METER dari kami bicara. Tanpa sengaja gue sempat melihat, sekilas kepala si anak muda ini melihat dari ruang tengah ke arah ruang depan. Gue yakin dia ingin tahu siapa yang buat panas hatinya. Kebetulan posisi duduk saat itu gue mengarah ke ruang tengah (emang sengaja !!!) dan Mamanya si Z ini melihat ke arah pintu masuk, jadi dia tidak melihat gerakan anak muda tadi.

Setelah anak yang diasuhnya selesai, ibu muda ini pun beranjak pergi. Dan gue ??? Di depan layar monitor komputer, gue berusaha melanjutkan desain-desain yang belum selesai. Taoi, kok mentok yah... Jujur awalnya, perasaan gak enak itu karena gue mementingkan usaha. Keduanya merupakan konsumen dan konsumen itu bagaimanapun caranya harus dijaga, tidak boleh ada yang hilang. Tapi ada satu hal lain yang buat hati gue engga enak, satu hal itu adalah bagaimana perasaan gue kalau disakiti dengan cara seperti itu ??? Masih gue merasa sangat marah. Hmmm... gue harus melakukan sesuatu, mengguyur segayung air dingin keatas kepala yang panas, tentunya pasti basah :). Bagaimana caranya ??? Gue mencoba beranjak ke ruang tengah, pura-pura mengecek keadaan, trus secara becanda gue nyeletuk .... "Bokap loe diomongin tuh tadi". Tapi gak ditanggapi sama anak muda ini. Gawat dalam hati... trus gue balik ke depan komputer untuk mencoba melanjutkan kerjaan. Lagi-lagi bukannya membaik malah makin ga enak... Wuaaaah cara ringan gak mempan nih... Lama gue terdiam sambil mencoba berpikir apa yang harus dilakukan.

Sudahlah gue minta maaf aja... begitu pikir gue pendek. Tapi tunggu dulu, tadi bukan kesalahan gue. Masak gue yang harus minta maaf. Lama gue tercenung, berpikir betapa gak enaknya minta maaf. Untuk kesalahan kita saja seringkali berat tapi ini untuk kesalahan orang lain. Akhirnya kata-kata ini melintas di benak gue : "Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". Gue tersenyum, bukankah itu pengalaman lagi buat gue... kenapa tidak ???

Phhh... gue harus ngomong ama tuh anak, tapi kali ini dengan hati. Beberapa saat gue menunggu waktu yang tepat untuk bicara, gue harus jaga perasaannya. Kalau sudah sepi baru gue ajak ngomong. Sekitar 30 menit waktu itu tiba, gue beranjak ke ruang tengah. Gue duduk trus membuka pembicaraan...

"Maaf yah... kalau tadi loe harus mendengar obrolan tadi"
Dia tidak langsung menjawab
"Tadi loe udah dengarkan, orangtua loe diomongin ?" tanya gue
"Iya sih, cuman kan bokap gue udah kasih tau TV-nya udah tua. Trus IC-nya itu kebetulan gue sendiri yang beli di Rawa Kopi dan itu baru. Emang TV-nya aja yang udah tua" kata dia meyakinkan
"Iya, gue tau kok. Gitulah klo kita buka usaha, orangtua loe, gue atau orang lain. Kalo pelayanan kita jelek pasti diomongin orang" jawab gue berusaha sehalus mungkin.

Gue melihat ada kegeraman di matanya. Dia pun berusaha meyakinkan gue bahwa dia dan bapaknya menjalankan usaha dengan jujur. Gue tahu dia engga mau keluarganya dipermalukan dan itu sangat-sangat menyakitkan. Menyakitkan bukan hanya menyakiti perasaan tapi lebih dari itu karena itu tempat mencari nafkah. Bagaimana kalau di daerah ini tidak percaya lagi dengan usaha bapaknya. Oh... Lord, i'm understand now.

Sejenak, ada perasaan tenang dalam diri gue. Yaah, minta maaf memang sulit, tapi setelah itu seperti ada air dingin yang menyiram kepala gue. You know what... setelah itu adik laki-lakinya datang dan diberi tambahan duit untuk main di unit yang lain. Saat gue masih menulis ini kedua bersaudara itu masih bermain, paling engga, gue udah bisa mendengar suara mereka bercanda. Gue engga tahu nanti, lusa... atau kapan pun, apakah anak muda ini akan menceritakan peristiwa ini kepada keluarganya terutama ayahnya atau nanti melarang untuk kembali tempat gue. Gue hanya berharap bahwa dia belajar bahwa seringkali kita harus menerima keluhan, kritik bahkan cemoohan orang. Namun satu hal bahwa perlu jiwa besar disana atau dalam bahasa gue kasih.

Hari ini gue kembali belajar :
  1. Bahwa teramat sulit menempatkan diri, ketika mendapati diri kita mendengarkan curhat seseorang sedangkan subyeknya berada di sekitar kita.
  2. Untuk meminta maaf bukan karena kesalahan yang gue lakukan tapi oleh orang lain. Hal itu ternyata cukup sulit.
  3. Bahwa apa yang kita keluarkan dari mulut, bisa fatal akibatnya tanpa disadari.
Dan, tepat ketika gue menyelesaikan tulisan ini, dua bersaudara itu telah beranjak pergi ...

Tak seorang pun dapat memahami hati manusia kecuali jika dia memiliki simpati yang didasari oleh kasih - Henry Ward Beecher


with respect

:> ANTz
Read More :>

Itulah Hidup

ANTz wrote 9:18 AM 4/19/2009

Pagi ini, gue duduk di depan rumah seorang teman di daerah Pondok Labu. Orangtua teman gue meninggal Sabtu malam karena sakit tumor ganas. Meninggal merupakan bagian dari siklus kehidupan manusia, selain kelahiran dan pernikahan. Akan ada tawa dan disana pula tangis mengiringinya, bagai 2 sisi mata uang.

Seminggu yang lalu, tepatnya hari Senin & Selasa, gue sibuk membenahi kamar-kamar yang ada di rumah orangtua. Banyak barang-barang lama yang gue temui, membangkitkan memori masa lalu. Salah satunya buku Chicken Soup for Soul edisi. Wuaaah... asik juga buat sumber inspirasi. Kalau tidak salah, hari Jumat-nya gue baru punya waktu luang untuk mulai membaca. Gue mendapati kesan yang hampir serupa dari berbagai cerita didalamnya. Mulai dari anak terkena Leukimia, veteran Vietnam dengan kruk di kakinya yang menjadi montir mobil, ibu yang menderita kanker payudara, ayah yang kehilangan anak yang masih muda karena kecelakaan, kakek tua penderita jantung, supir taksi yang profesional sampai seorang gadis muda penderita Paranoid Schizofrenia. Dengan ekspresi yang beragam, semua penulis atau pelaku menunjukkan pesan yang sama. Bagaimana manusia menyikapi hidupnya dan memberi arti seberapa pun pendeknya hidup mereka.

Masih dalam minggu ini, gue kebetulan mendengarkan lagu-lagu karya Giving My Best dalam album Stand Out dan Sidney Mohede dengan albumnya Better Days dan Ada Langit Biru. Dari sekian lagu dalam ketiga album tersebut, ada 3 lagu yang akhirnya sering gue dengerin, bahkan saat gue menulis artikel ini. I love it. Lagu itu berjudul Sampai Batas Waktu (Giving My Best), Batas Akhir dan Masih Ada Langit Biru (Sidney Mohede). Padahal awalnya gue agak engga suka karena dari judul dan liriknya mengandung hal-hal mengenai kematian, kesusahan ataupun ketakutan. Hal-hal yang selama 5 tahun terus menghantui diri gue dan menghilangkan semangat, hanya untuk sekedar hidup. Namun hati gue terlanjur menyukainya, mau apa lagi.

...Tatkala gelap mencekam hidupku
Ku rasa aman dalamMu
Kubawa hatiku
Ombak yg menderu
Tak membuat galau hatiku
Kutahu, kuselalu mengandalkanMu...

Yaah... selama 5 tahun, gue dihadapkan pada kondisi yang sama seperti pelaku dalam kisah di buku Chicken Soup for Soul ataupun seperti rangkaian lirik dalam ketiga lagu diatas. Seperti mereka, awalnya gue merasa hidup telah habis di usia 25 tahun. Cita-cita & mimpi telah raib seperti debu ditiup hembusan angin, hilang tak berbekas. Dokter & psikolog melakukan beragam diagnosa, kerabat datang silih berganti memberi semangat, segala macam obat dari yang tradisional sampai non tradisional masuk ke perut sampai buku-buku pembangkit semangat didatangkan....tokh gue tidak beranjak dari sedotan lumpur hidup. Alih-alih bangkit malah gue semakin membangun tembok setinggi langit, memutuskan hubungan dengan dunia di sekitar termasuk keluarga sendiri. Hanya untuk menunjukkan konklusi diri gue sendiri bahwa : I'm Finished.

Namun layaknya kisah-kisah dalam Chicken Soup for Soul, gue mengalami transformasi yang serupa. Dan itu dimulai dari hal yang sangat sederhana, ANAK-ANAK. Selama 2 tahun kehilangan kontrol akan diri gue, di tahun ketiga gue mencoba memulai sebuah usaha yang dekat dengan anak-anak. Tujuannya sederhana sekedar mengisi waktu ditengah keputus-asaan. Amazing....tiga tahun kemudian atau 5 tahun dari titik dimana gue sakit, berbagai jenis hasil dapat dipetik. Dari segi investasi saja, modal dalam bentuk barang bukannya susut malah nilai jualnya naik dan pendapatan yang disimpan dalam bentuk deposito menghasilkan nilai yang lumayan ketika suku bunga naik. Dari 1 tempat yang mulanya iseng-iseng sempat menjadi 2 tempat walau akhirnya yang lama tutup karena kendala pegawai. Dan yang paling penting, diri gue mengalami perubahan yang luar biasa. Gue menjadi sosok yang sangat menghargai uang sampai nilai yang terkecil :), memahami bagaimana menjalankan usaha hingga akhirnya sangat menghargai orang yang berani berusaha secara mandiri, menjadi sabar menghadapi beraneka karakter orang (pengaruh anak-anak neeh), dan yang TERPENTING mulai ada MIMPI-MIMPI yang terselip dalam diri gue :), sesuatu yang hilang selama 5 tahun ini.

Ketika membaca kisah-kisah dalam Chicken Soup for Soul, mendengarkan lagu-lagu dari Giving My Best & Sidney Mohede serta mengenang masa-masa suram dalam hidup gue, untuk kemudian mengarahkannya kepada momen dimana gue berada dalam suasana berkabung saat ini... seperti ada gong yang dipukul di dekat telinga... keras sekali. ITULAH HIDUP begitu suaranya terdengar.

Yah... bagaikan pisau bermata dua "ITULAH HIDUP" membuat diri gue amat tenang sekaligus muram. Tenang karena setelah mengalami saat-saat menyakitkan dalam hidup, gue kini mempunyai visi dan mimpi yang baru. Visi dan mimpi yang sangat sederhana, dimana gue mulai menikmati hidup tanpa harus ngoyo (bahasa Jawa) mencapainya. Mimpi yang akan terus bergulir walaupun gue telah Mencapai Batas Waktu. Visi yang hanya berkata : "Pengaruhi sekitarmu, buat lebih baik". :) Sekarang, gue selalu mencari jenis usaha yang berdasarkan visi ini. Selama 3 tahun gue telah melaluinya dari hal yang kecil yaitu sekitar lingkungan rumah. Dan mulai bulan April 2009, gue memulainya bersama abang gue dalam konteks yang lebih besar. Tidak tahu berhasil atau tidak, tapi sebuah visi haruslah selalu bersama mimpi karena jika itu gagal anggaplah sebagai mimpi belaka, alias tidak stres :)

"ITULAH HIDUP" mendatangkan sisi muram dalam diri gue. Ketika hari ini gue berbincang-bincang dengan salah satu pelayat, keluar pernyataan tersebut dari bibirnya. "Itulah hidup, hari ini kita sehat... besok bisa meninggal. Ada yang sakit bertahun-tahun tokh tetap tidak meninggal !!!". Sedih rasanya mendengarkan pernyataan yang terkesan datar. Bukannya apa-apa, kalau setiap orang sudah tahu begitulah kenyataan hidup, pertanyaan-nya adalah apa yang telah dilakukan selama hidupmu ???

Apa yang dibenak orang yang ketika memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar atau melakukan janji-janji kosong yang tokh akhirnya menyakiti orang lain hanya untuk kekuasaan atau pengaruh. Hampir semua orang mengharapkan atau mengejar sesuatu dalam hidupnya apakah itu kekuasaan, ketenaran, harta, kepintaran atau eksistensi diri lainnya. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran gue : "Apakah semuanya itu akan selamanya melekat dalam diri kita ?". Ketika dari dalam rumah duka tiba-tiba terdengar tangisan keras yang bersahutan... gue sudah menemukan jawabannya. Tidak ada yang kekal. Hanya kenangan yang ditinggalkan entah sampai berapa lama.

Yah... hidup ternyata sederhana apapun kondisinya. Setiap manusia menjalankan rutinitas yang dipilihnya, ketika mereka jenuh, mudah saja untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Dan siklus hidup terus berputar dari mulai membuka mata hingga akhirnya menutup mata. Dimulai dari tertawa senang hingga akhirnya menangis pilu atau seharusnya dimulai dari tangisan si kecil hingga tawa sang tua meninggalkan sakit yang dideritanya...

Gue hanya terpekur, ketika mendung mulai bergayut diatas rumah duka dan pelayat mulai beranjak dari tempat duduknya. Gue tetap duduk sambil melihat ke langit dan meneruskan menulis, entah bagaimana gue percaya hujan baru akan turun ketika gue pulang ke rumah.

...Sampai batas akhir nafasku
Dan sampai lenyap detak jantungku
Kan kuserahkan seluruh hidupku
Dan b'ri yang terbaik bagi-Mu...


with respect :>

ANTz
Read More :>

Anak Harus Lebih Baik Dari Bapaknya

ANTz wrote 10:29 AM 4/1/2009

Wuaah.... hari ini gue bangun telat, 9.30 gue baru buka deh. Engga apa-apa deh lagian anak-anak juga masih pada sekolah. Setelah nyampe gue masih berbengong ria, karena otak blom nyambung. Ternyata sebagian anak-anak engga sekolah, ada try out untuk kelas 6. Ya uwes-lah... gue dapet duit. Berbeda dengan tempat lain, gue buka jam diatas jam 9.00 kecuali hari libur. Alasannya menghindari anak-anak yang cabut sekolah trus singgah di tempat gue. Namun setahun terakhir, gue perhatikan mereka malah keseringan "LIBUR". Ada aja alasannya : ada yang gurunya rapat, kondangan dan lain-lain. Awalnya gue ga percaya, namun setelah diperhatikan emang mereka engga bohong. Misalnya seminggu yang lalu, kalo engga salah hari Kamis, 26 Maret 2009 itu bertepatan tanggal merah. Berdasarkan pengalaman klo udah begitu biasanya hari Jumat pasti libur karena hari Kejepit Nasional dan gue pun datang sekitar jam 8.00. Namun dugaan gue salah anak-anak masuk sekolah. Bagus juga kalo begitu taat aturan. And then besok gue akan buka kembali seperti biasa. Tapi besoknya gue malah bengong, gue malah disamperin ke rumah sama anak-anak sekitar jam 8.00. Ketika sampe tempat, anak-anak itu sebenarnya masuk sekolah cuman ya itu, beragam jawaban keluar dari mulut mereka. Ada yang bilang disekolahnya tidak ada pelajaran trus disuruh pulang cepat, ada yang pelajarannya cuman satu dan akhirnya ada yang jujur bilang males sekolah, percuma engga ada gurunya tutur mereka. Yang gue bingung dengan sekolah yang beragam dan alasan yang berbeda kok hasilnya sama mereka umumnya tidak masuk sekolah.

Seperti juga hari ini, tempat udah penuh. Biasanya sih sekitar jam 11-an abis pulang sekolah. Ternyata sekolah dipake untuk try out kelas 6, jadinya yah engga masuk sekolah. Wuaah... dalam sebulan udah berapa kali anak-anak ini mendapat TANGGAL MERAH. Nah... kebetulan hari ini ada seorang ibu muda yang menemani anak asuhnya. Engga berapa lama kami mengobrol, awalnya dia cerita bahwa anak kandungnya yang sekolah di salah satu SDN di Depok akhir-akhir ini turun nilai raportnya, sulit katanya sekarang untuk anaknya belajar dengan baik di sekolah. Bahkan anaknya nyeletuk bahwa ada gurunya yang tidak memperbolahnya bertanya bila sedang bingung. Wuaalah... opo tenan iki. Yang gue tau selama gue usaha dan sebagian besar berinteraksi dengan anak-anak mereka jarang sekali bohong (sebagian besar usianya dibawah 6 tahun). Terus diceritakan bahwa memang untuk sekarang tidak ada lagi uang sekolah (karena ada dana BOS), namun diperhatikan sejak tidak membayar uang sekolah itu pola belajar, terutama anaknya berubah ATAU mungkinkah pola belajar mengajar di sekolah ? Si ibu muda ini pun berujar kalo begitu lebih baik saya membayar uang sekolah lagi, biar anak saya bisa belajar dengan lebih baik. Belum lagi beban pelajaran yang dianggap berat untuk anak-anak, terutama pelajaran seperti Komputer atau Bahasa Inggris.

Benar atau tidak, dari obrolan kami menyiratkan benang merah bahwa ada korelasi antara proses belajar mengajar dengan bebas uang sekolah (baca dana BOS). Apakah memang benar dengan adanya dana itu mengurangi kualitas pendidikan ? Gue engga tahu. Hanya saja dari sini gue memperhatikan secara sederhana dari segi kuantitas saja, dalam sebulan mereka sudah kerap libur blom lagi seminggu kedepan akan ada lagi tanggal merah. Sedangkan dari sisi kualitas, gue menelaah bahwa terdapat pola bahwa sekolah (dalam hal ini yang negeri) berusaha menjalankan kurikulum nasional sebaik-baiknya dengan dana yang ada (baca dana BOS) tanpa memperhatikan aspek psikologis anak. Lha siapa yang mo perhatikan psikis anak satu kelas wong gaji aja kurang ? Akhirnya gue memahami bahwa ada kesenjangan antara target kurikulum nasional (beban pelajaran) dengan dana operasional yang tersedia. Korbannya yang gue temui ya itu ANAK-ANAK, trus orangtua dan akhirnya guru pun terseret dalam masalah ini. Tapi layakkah mereka dijatuhi batu panas diatas kepalanya ? Jelas TIDAK.

Tidak ada maksud untuk menggurui para ahli pembuat kurikulum di negeri ini, mungkin benar kurikulum pendidikan nasional sudah baik bahkan teramat baik. Tokh sudah tersedianya Dana Operasional Sekolah, sudah ada Ujian Akhir Nasional yang menjadi standar kelaikan pelajar negeri ini atau seribu indikator lainnya. Bapak atau Ibu bisa sebutkan, namun kami atau paling tidak gue melihat muka suram anak-anak ini. Bukankan sekolah dapat menjadi tempat yang menyenangkan bagi pertumbuhan diri anak bukan hanya sekedar untuk pendidikan formal belaka. Ataukah mereka akan belajar langsung dari lingkungan tanpa ada yang mendampingi. Jadi jangan kaget atau seolah-olah kaget jika di tingkat SMP atau SMU mereka sudah akan membuat genk-genk hanya untuk eksistensi belaka. Eksistensi yang diabaikan di sekolah dan di rumah, namun tokh muncul juga di televisi. :)

Emang gue tidak mempunyai ilmu psikologi, walau begitu gue belajar bahwa paling tidak sampai usia 6 tahun adalah masa penting dalam membentuk kepribadian seseorang. Karena selepas usia itu anak-anak akan berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas dan kompleks, mereka akan mempunyai keingintahuan yang meluap-luap. Jadi kalo masih mau liat negeri ini yah...paling engga masih dianggap negara lain, bentuklah GENERASI EMAS. Sederhananya ANAK HARUS LEBIH BAIK DARI BAPAKNYA.


with respect

:> ANTz
Read More :>

Visi Seorang Muda

ANTz wrote 9:08 AM 10/28/2004

Pagi ini, sekitar pukul 08.00 WIB saya sedang menonton TV. Akibat terlalu banyak stasiun TV maka perpindahan channel pun kerap terjadi, hal tesebut dipengaruhi berbagai program acara yang ditayangkan secara bersamaan namun sayang untuk dilewatkan. Nah...biasanya sekitar antara jam 08.00 - 09.00 WIB itu saya selalu punya 3 channel pilihan, yaitu sebuah program talkshow ringan, film kartun anak-anak dari Legenda Tionghoa dan sebuah ajang kompetisi olahraga jalanan. Untuk program pertama biasanya saya lihat dulu topiknya apakah menarik atau tidak, ternyata terlihat nara sumber seorang pemuda yang bisa dipastikan dia seorang mahasiswa karena mengenakan jaket berbau mahasiswa (bukan jaket resmi universitas) dengan logo M di lengan bajunya. Wuaaahh....ini pasti tentang tawuran !!! Tuduh saya dalam hati. Keengganan pun memaksa saya untuk segera beralih kepada kedua acara berikutnya.

Setelah 30 menit kedua program acara tersebut pun usai, saya pun kembali mencoba melirik program talkshow tadi. Hati saya sontak tertarik karena sang presenter menanyakan visi ke depan pemuda bagi sang narasumber ini. (Belakangan saya baru tahu kalau topik hari ini 76 Tahun Sumpah Pemuda). Berikut replika 30 menit tersisa dari acara tersebut melalui sisi ketertarikan saya pribadi.
  • Di program tersebut seperti biasa terdiri dari 2 presenter. Narasumber bisa 1 atau lebih, untuk hari ini 2 orang. Kedua narasumber jelas pemuda dengan penampilan yang agak berbeda, seorang seperti yang saya sampaikan sebelumnya mengenakan wear pack khas mahasiswa sehingga menonjolkan aroma ke-mahasiswa-annya dan yang satunya lagi menyiratkan image seorang muda yang bebas, mengenakan kaos krem berkerah yang didalamnya terlihat kaos oblong putih.
  • Kedua narasumber sama-sama sepakat bahwa harus membuat diri mereka berhasil terlebih dahulu baru nanti kalo ini kalo sudah berhasil memikirkan sekitarnya (dalam bahasa mereka negara).
  • Seorang sosiolog menyatakan tidak benar pendapat bahwa mahasiswa universitas A itu bangga ketika melakukan tawuran dengan mahasiswa dengan universitas B dalam kerangka menjaga nama kampus. Kata beliau sesungguhnya mahasiswa itu bangga ketika kampusnya berprestasi. (saya tidak fakta sesungguhnya, apakah mahasiswa yang tawuran sependapat dengan sosiolog tersebut. Mungkin iya bagi mahasiswa yang enggan tawuran).
  • Terdapat tayangan peristiwa tawuran yang berlatar belakang sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta yang namanya memuat sebuah agama (PT ini cukup sering terlibat tawuran). Juga yang baru-baru ini dimana sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi yang mengkhususkan diri dalam pengajaran agama mengamuk menghancurkan sendiri kampusnya.
  • Selain mereka di lapangan diwawancarai 4 orang mahasiswa yang berbeda dengan pertanyaan apa rencana ke depan. Jawabannya adalah (1) menyelesaikan kuliah, (2) meneruskan cita-cita pendahulu, (3) membangun bangsa negara dengan tidak terjerumus ke narkoba, (4) membangun bangsa karena masih percaya budaya bangsa ini cukup tinggi.
  • Juga terdapat seorang penelpon dari daerah yang menyatakan jangan menggeneralisasi keadaaan pemuda saat ini yang hanya tawuran dan dugem di semua tempat sama. Di desanya, pemuda-pemudi sanggup berkarya dan menghasilkan income yang cukup besar, begitupun di Bandung kata beliau, para pemuda disana ada yang merintis usaha sendiri walaupun orangtua mereka mapan.
  • Narasumber pertama secara tidak langsung mengungkapkan ada perasaaan atau emosi yang lepas ketika tawuran dengan menolak bahwa ketika tawuran mempunyai kehendak untuk melukai.
  • Kedua narasumber saat ini menyadari bahwa tawuran itu tidak ada manfaatnya dan itu sudah menjadi masa lalu. Sekarang bagi mereka adalah segera menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan, berhasil dan membahagiakan kedua orangtua mereka.
Terus terang saya tidak mau menyoroti masalah 76 tahun Sumpah Pemuda, karena bagi saya momen itu menjadi semacam topeng yang mengcover semua momen-momen lain di masa kini atau masa sebelumnya. Doktrinasi yang cukup tinggi terasa di masa sekolah dulu dengan mengagungkan Sumpah Pemuda sebagai titik tolak persatuan. Bagi saya setiap masa, era, dekade atau apalah disebut pasti punya saat yang dinilai historis. Bagaimana dengan Angkatan 66 dimana mereka mengklaim bahwa itu pergerakan mahasiswa menghentikan Orde Lama atau Angkatan 97-98 dengan 12 Mei-nya yang mengklaim bahwa mereka telah merontokkan tirani Orde Baru....atau nanti ketika Angkatan XX berkata memperbaharui Orde Reformasi ??? Apakah yang membedakan momen Sumpah Pemuda dengan momen setelahnya ??? Kenapa tidak ada Sumpah Pemuda jilid II dimana ketika itu semua mahasiswa di seluruh Nusantara ini bersatu tanpa unsur SARA bahkan sampai mengorbankan nyawa ???

Pertanyaan berikutnya adalah sekarang apakah peran pemuda atau jika mau lebih tajam visi pemuda ke depan ? Apakah pemuda harus selalu membuat momen penting seperti Sumpah Pemuda atau 12 Mei 1998 ? ataukah berdemo secara brutal demi eksistensinya ? Sesungguhnya pertanyaan ini yang menjadi inti dari kegelisahan saya selama ini dalam menatap kaum muda di negeri ini.

Faktanya tampilan kaum muda di negara kita adalah hampir mendekati replika talkshow diatas. Coba tengok saja contoh sederhana, yang namanya Indonesia untuk memenangkan Olimpiade Ilmu Pengetahuan, seperti Fisika, Matematika, Kimia, Biologi, dll sekarang ini adalah hal yang biasa. Minimal satu medali dapat diraih putra-putri Indonesia, hebatnya yang terakhir di bidang Astronomi yang notabene tidak ada dalam mata pelajaran di sekolah. Itu prestasi di tingkat SMU ke bawah lho....lalu di tingkat Perguruan Tinggi ke atas ??? hilangkah ??? Paling-paling yang saya dengar hanya Choir kita yang cukup mumpuni...selain itu MAHA siswa kita kerap dituding bisanya hanya demo dan tawuran atau mungkin dugem.

Kenapa bisa begitu yah...? Saya juga bingung.... Jawabannya mungkin ada pada beberapa remaja yang berulang tahun di usia 17 tahun. Apa kata mereka ? Sederhana sekali...saya sudah bisa punya SIM dan KTP. Dengan kata lain mereka bilang saya sudah dewasa...bisa kemana saja !!! Saya menemukan sedikit terang disini. Logikanya ketika masih di tingkat SMU kebawah peranan orangtua dan guru masih terasa, sehingga remaja mempunyai ruang lingkup yang teramat sempit selain belajar. Yah...that it..BELAJAR. Ketika dia lepas dari masa remaja, diukur dari usia (17 tahun) atau memasuki masa kuliah maka tembok-temboknya mulai runtuh. Tidak ada lagi orangtua...tidak ada lagi guru....everything free...man

Bagi saya disinilah titik dimana orang mulai mencari jati diri. Interval antara 17 - 24 tahun (batas atas agak relatif) adalah masa lepas. Disini istilah dunia muda sering mengemuka..."kapan lagi mumpung masih muda....!!!". Jadi mulailah masa produktif yang dipaksakan semasa SMU pelan-pelan memudar walaupun tidak seluruhnya untuk beralih menjadi ekspresi kebebasan. Sampai dimana masa akan memaksa mereka kembali untuk menjadi produktif (biasanya dipengaruhi aspek ekonomi, usia dan lingkungan). Makanya jangan heran jika pada interval itu pemuda jarang mempunyai visi, tapi coba tanyalah soal ekspresi.

Nah...ekspresi itulah bagi saya yang sedikit banyak melatarbelakangi momen-momen penting diatas, mulai dari Sumpah Pemuda hingga Peristiwa 12 Mei. Kok begitu...??? Dari pengalaman hanya segelintir dari sekian banyak orang ditanya mengapa harus menjatuhkan Orde Baru ??? Jawabannya kebanyakan hanya berupa ekspresi....ekspresi idealisme atau ekspresi kebebasan. Kalaupun ada yang segelintir itu biasanya menjadi sasaran target operasi aparat :). Mereka umumnya visioner yang radikal dengan idealisme (baca polos) tingkat tinggi. Untuk menciptakan hal itu sama seperti snow ball atau bola salju anda cukup menggulirkan sedikit saja salju dari puncak gunung...maka yang lain akan ikut....bukankah begitu ???

Hal ini berbeda dengan kaum tua (tidak menyebut dewasa karena dewasa itu pilihan), ekspresi mereka hampir memudar dibayar dengan realistis kehidupan. Coba tengok politikus kita...sekarang ngomong A, bisa jadi besok bilang Z. Tergantung keadaan saja...tapi sebenarnya ini saya menyebutnya dengan visi masa depan (untuk pribadi tentunya).

Dari satu sisi saya melihat hal-hal diatas tadi....namun mencuplik pernyataan bahwa tidak di semua daerah sama, contohnya di desanya dia kaum mudanya produktif. Jawaban saya itu benar, tapi kita harus melihat dalam situasi kondisinya. Di daerah benar hal itu terjadi bahkan sejak usia remaja mereka sudah mulai berkarya (bekerja). Ini banyak dilatarbelakangi masalah kultur keluarga atau budaya setempat dan ekonomi. Sebagai contoh juragan beras di desa yang memiliki PO misalnya akan "memaksa anaknya" untuk meneruskan PO-nya tersebut atau keluarga buruh tani di desa terpaksa mengerahkan keluarganya untuk menggarap sebidang tanah. Kalau anda di kota besar Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar anda tidak akan kesulitan menemukan yang namanya pengamen. Lagi-lagi ada faktor-faktor lain yang harus anda lirik bukan ???

So...bagaimana ??? Supaya referensi lebih banyak mari kita melirik ke dunia barat. Di dunia yang sering disebut kapitalis itulah sedikit petunjuk itu berada. Disana setelah high school, kaum mudanya sudah diwajibkan mandiri. Tidak terlepas keluarganya sudah mapan atau belum. It must be !!! Kaum mudanya dipaksa bukan dengan orangtua atau guru tapi dengan keadaan. Kalau anda perhatikan di film-film bertemakan anak muda seperti Madison, Heartbreak High, Dawson Creek atau Beverly Hills terdapat benang merah disana. Ada proses...ya proses mematangkan visi di setiap anak muda. Jadi di masa itu visi dan ekspresi anak berjalan bersamaan, di satu sisi anak muda ingin bebas namun disisi lain mereka harus bertanggungjawab akan hidupnya. Makanya jangan heran jika di film tersebut seringkali terjadi bentrokan antara orangtua dengan anaknya. Namun lihatlah akibatnya di interval yang sama dengan di Indonesia yaitu 17-24 tahun mereka dengan mantap sudah siap menantang hidup. Bahkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan keadaan antara di daerah dan kota seperti Indonesia tidak berlaku di sana. Film Heartbreak High merupakan film dengan latar belakang anak-anak berandalan di Australia sedangkan Beverly Hills diwarnai kehidupan orang kaya di negeri Paman Sam atau Madison yang berada di kehidupan kelompok sosial menengah.

Nah...kalo generasi tua banyak yang bilang tayangan dari dunia barat membawa dampak buruk...well...kita harus melihat dari sudut pandang mana dulu. Di satu sisi benar bahwa banyak dampak buruk dari sana. Namun di sisi lain saya cukup mengkritisi tingkah laku penghuni negeri ini sendiri. Maaf kalau agak kasar...menurut saya bangsa ini tidak mempunyai cukup saringan untuk menerima pengaruh luar. Terus terang bagi di luar negeri Indonesia adalah pasar yang paling potensial, tahu kenapa ? Bukan hanya karena penduduknya banyak tapi ini karena konsumtif tingkat tinggi dan trend maniak yang kebablasan. Jadi jelaslah kalau trend apapun yang berlaku di luar sana akan segera hadir dalam sekejap di negeri ini. Sehingga bagi saya benar apa yang dilakukan Ali Sadikin dengan melegalkan antara WTS atau Porkas (saya lupa) atau Gus Dur yang mencabut Tap MPR soal PKI. Prinsip beliau-beliau ini sangat praktis...Mereka tidak mau mendiskriminasi orang yang buruk untuk selalu menjadi yang paling menderita, tapi memberikan batas-batas dan hak setiap manusia. Jadi seakan-akan mereka bilang ini lho yang engga baik. Wong kalo jelas sudah engga cocok atau salah mbok ya jangan diikutin...Kesimpulannya apa ??? Lagi-lagi maafkan saya bangsa kita mudah dipengaruhi oleh trend. Jika udah jatuh korban gampang saja...abis gara-gara tayangan TV atau korban internet !!! Maka sekali-kali bertanyalah kepada diri kita.

Akhirnya kembali ke pengalaman saya sendiri dimana sering melihat ketiadaan visi atau tujuan dalam diri anak muda Indonesia. Ketika mereka apa itu sekolah jawabannya sederhana karena disuruh orangtua atau melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Atau kenapa harus kuliah tidak kursus saja ? Mereka pun menjawab untuk mendapatkan gelar atau peluangnya lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan.

Ketika mereka terpaksa bekerja mulai usia remaja hingga pemuda sebagai pengamen atau pemulung, mereka hanya menjawab harus mempertahankan hidup tanpa ada yang menamkan mereka bagaimana keluar dari situasi itu.

Dan ketika mereka telah mulai masuk dunia kerja selepas Perguruan Tinggi...jawabannya pun klise mengumpulkan uang untuk menikmati hidup.

Mungkin saya terlalu naif dalam menulis semua ini. Mungkin saja begitu tapi yang saya rasakan alangkah sayangnya jika kita melewati setiap masa hidup kita dengan keterpaksaan atau alasan memang seperti itulah masa muda atau bahkan hanya untuk senang-senang tanpa tahu apa yang telah saya perbuat di masa-masa hidup mulai kanak-kanak, remaja, pemuda, dan tua ada maknanya atau tidak. Saya kerap kali merasa iri kepada anak-anak muda yang memiliki visi hidup yang jelas, terlepas apakah profesi apa yang mereka tekuni. Ada teman perempuan yang melayani jauh di Kalimantan sana walaupun keluarga kurang menyetujuinya, ada yang masuk seminari di malam hari dengan sebelumnya bekerja pagi hari untuk membiayai kuliah tersebut, ada yang rela pontang-panting mengejar beasiswa di luar negeri yang tidak jelas dengan mengorbankan pekerjaannya serta seorang yang dengan pasti masuk sekolah theologia tanpa kepastian membayar dengan apa. Walaupun saya tidak bertanya kepada mereka apa yang menyebabkan hal tersebut, saya tahu ada visi di dalam diri mereka...u know what it is ? visi dari TUHAN dan iman yang menjadi benihnya. GOD bless u.

Buat anak-anak muda yang teguh berdiri diatas visi TUHAN di diri mereka.


with respect

:> ANTz
Read More :>

Siapa Rekan Usaha Anda ?

ANTz wrote 10:12 AM 3/9/2009

Kadang-kadang agak menggelikan jika mencermati hal ini. Setelah mengalami sakit selama 2 tahun, gue mencoba memulai usaha. Awalnya sekadar untuk membuat diri sendiri mempunyai kegiatan, hanya itu. Di keluarga, gue adalah anak terakhir dari 3 bersaudara yang kesemuanya adalah laki-laki. Dengan modal dari abang tertua, gue mulai mencoba menjalani usaha tersebut. Dengan alasan tersebut di atas, tidak ada perjanjian tertulis tentang uang, terutama pembagian keuntungan. Hanya dengan Gentleman Agreement antara saudara, kami mendasari usaha tersebut. Perjanjiannya sendiri agak sederhana, bahwa semua uang yang dihasilkan tidak boleh ada yang diambil untuk kepentingan pribadi. Sampai saat ini belum ada istilah pembagian saham atau dividen apapun. Bahkan gue sendiri tidak mengambil gaji dari hasil tersebut. Aneh memang, namun kondisi dimana gue masih tinggal bersama orangtua dan belum berkeluarga dapat mewujudkan hal tersebut. Mengenai pengeluaran pribadi lain seperti komunikasi dan refreshing, bisa gue minimalisasi karena kebetulan gue tidak memanfaatkan HP dan hampir tidak pernah keluyuran yang sifatnya wasting money. Sedangkan abang gue, mempunyai pekerjaan tetap sehingga dia pun tidak mengambil uang dari pemasukan yang ada. Pemasukan hanya dikeluarkan untuk kepentingan usaha, seperti biaya sewa tempat, listrik, perbaikan dan belakangan untuk membayar seorang pegawai.

Untuk pembagian pun sederhana, saya yang mengelola keseharian dan apabila memerlukan barang, setiap akhir pekan kami mencarinya bersama-sama. Hampir 3 tahun, kami mengelola usaha kecil ini. Selama kurun waktu itu, selain pemasukan dari segi uang, juga dapat menambah dengan beberapa unit alat. Selain itu sempat membuka tempat baru, walaupun tidak lama karena kendala pegawai.

Baru-baru ini abang gue yang lain, menawarkan merintis usaha. Kondisi dia saat ini, sama seperti abang yang tertua : sudah mempunyai pekerjaan tetap. Jadi gue yang diharapkan mengelola usaha yang baru ini. Gue kembali menyanggupinya. Permasalahan kecil muncul ketika gue menanyakan soal dana investasi. Tidak seperti yang pertama dimana gue tinggal mengelola saja dengan dana yang sudah tersedia. Dengan berterus terang gue menjelaskan bahwa gue tidak mempunyai sepeser pun uang dan tidak mempunyai pemasukan apapun. Memang ada, namun itu adalah semacam dana abadi yang tidak bisa diganggu gugat. Gue tidak akan mengambil bagian karena sudah menjadi bagian dari Gentleman Agreement yang tidak tertulis. Dan dana itu akan diproyeksikan agar dapat menghasilkan sendiri tanpa harus dikelola, dalam artian investasi mandiri.

Ketika abang gue ini bertanya dalam bentuk apa gue akan menerima keuntungan, gue hanya menawarkan keuntungan jangka panjang sama seperti usaha yang telah gue rintis. Hitungan gue amat sederhana, mengapa tidak menekan pengeluaran yang bersifat mubazir, jika dalam kurun waktu 3-5 tahun, beberapa usaha yang dirintis telah berkembang menjadi pohon-pohon yang menghasilkan buah ? Selain itu sesungguhnya secara tidak langsung menyatakan bahwa gue ingin mempunyai sebuah usaha keluarga yang kuat.

Pagi ini, secara jernih akhirnya gue belajar bahwa dalam satu keluarga yang sedarah sekalipun tidak menjamin kesamaan karakter dalam menjalani sebuah usaha. Dan dari kesimpulan itu gue mencoba memilahkan karakter apa saja yang menjadi rekan usaha kita.

1. Investor Character

Abang gue yang tertua mempunyai karakter tersebut. Selama bekerja sama dengan dia, gue mengidentifikasi ciri khas yang melekat pada dirinya yaitu seorang investor kebanyakan meluangkan banyak dananya dibandingkan waktunya. Selama usaha yang dijalankan masih mendatangkan keuntungan dari kacamatanya maka pengelola tidak akan banyak berinteraksi dengannya. Seorang investor sejati selain siap mengambil resiko dalam level yang tinggi juga biasanya mempunyai banyak stok rencana investasi (yang diwujudkan dalam jenis usaha). Walaupun dalam aktualnya, dari sekian banyak rencana-rencana tersebut paling hanya 1-2 saja yang mempunyai endurance kesuksesan yang lumayan panjang. Tokh, kalaupun ada yang gagal atau usaha telah mencapai Break Event POint maka sang investor telah menyiapkan jenis investasi atau usaha baru sesuai kondisi yang dikuasainya.

2. Dominant Character

Abang gue berikutnya merepresentasikan karakter ini. Walaupun baru beberap bulan merencanakan usaha, gue mendapati bahwa ciri khas yang menonjol adalah kemauan yang keras untuk meluangkan waktunya mengurusi seluruh persiapan usaha, mulai dari konsep hingga running process. Rekan usaha seperti ini akan terlebih dahulu menghitung secara cermat peluang usaha yang ada dari dua hal pemasukan dan pengeluaran sebelum melakukan sebuah usaha. Resiko sekecil apapun akan sangat diperhitungkan agar kerugian yang dicapai tidak terlalu besar. Aspek spekulasi akan berada di titik yang rendah pada karakter yang seperti ini. Ke depan, gue melihat karakter yang seperti akan setia dalam satu jenis usaha dan melakukan ekspansi masih dalam jenis usaha yang sama (turunannya), tanpa berencana melakukan diversifikasi.

3. Passively Character

Karakter ini ditemukan dalam diri teman-teman gue. Mungkin karena posisi gue yang sedikit berpengalaman dalam merintis usaha menyebabkan karakter ini jelas terlihat. Teman-teman secara tidak langsung menempatkan diri mereka sendiri dalam posisi yang pasif. Walau usaha yang dirintis hanya dengan modal mengeksploitasi kemampuan atau bakat mereka namun pengalaman menempatkannya dalam posisi tersebut. Minimnya upaya dalam dalam hal visi, dana dan pengalaman menjadi kendala menjalin kerjasama dalam sebuah usaha. Sisi baik yang diperoleh adalah tidak ada intervensi berlebihan dalam meletakkan visi usaha sehingga leluasa mengatur porsi tugas yang menjadi tanggungjawab masing-masing.

4. Balanced Character

Karakter ini sesungguhnya menjadi tipe ideal kerjasama dalam sebuah usaha. Gue sendiri sampai sekarang kesulitan menemukan rekan usaha seperti ini. Faktornya sederhana yaitu kesamaan visi. Kesamaan visi akan mengejawantahkan dirinya menjadi beberapa titik penting dalam usaha, seperti jenis usaha, sumber dana, ketersediaan waktu, metode usaha dan lain sebagainya. Di setiap titik ini nantinya akan tercipta, apa yang gue sebut sebagai balanced effort. Sederhananya ada upaya alami (tanggung jawab) dari setiap orang yang terlibat dalam usaha tersebut alias bahasa antiknya tanggung renteng. Jenis usaha yang digeluti biasanya atas dasar kemampuan atau hobby yang ditekuni.

Anehnya dari sekian karakter yang telah dicoba untuk diidentifikasi, ada keraguan dimana sesungguhnya karakter gue berada. Mungkin, beberapa kondisi yang berbeda menyebabkan gue memerankan karakter yang berbeda pula. Atau bisa saja dicantumkan sebagai adaptive / opportunist character . Namun, secara pribadi gue tidak merekomendasikan karakter seperti itu karena terlalu sulit untuk mengenali dimana kelebihan dan kekurangannya yang berakibat kita tidak tahu apa yang layak diperoleh dari rekan usaha seperti itu. Penting atau tidaknya tulisan dikembalikan kepada yang pembaca. Tidak ada satu pun teori yang gue ambil dari buku teks manapun. Pengalaman yang dialami, itu yang gue tulis. Tidak lebih.

with respect

:> ANTz
Read More :>

Thursday, July 02, 2009

SALES vs. JOBLESS

Jujur, tidak ada maksud untuk meremehkan profesi yang satu ini.
Siang, itu gue lagi asik mengoprek komputer, ketika telepon di rumah berdering. Biasanya yang kerap dihubungi itu nyokap gue, maklum ibu rumah tangga, banyak kerjaan sampingan :). Karena itu hampir 99%, gue ga pernah niat ngangkat gagang telepon. Nah kebetulan kali ini bokap yang ngangkat, eh...ga lama beliau bilang : "Tha telepon nih...!"

Sejak berhenti dari kantor 4 tahun silam, gue udah sangat jarang terima telepon. Bahkan selama kurun waktu itu dapat dihitung pake jari berapa kali gue terima telepon. Dengan segera gue bergegas menghampiri pesawat telepon.

"Halo, Selamat Siang" suara seoarang pria terdengar.
"Eh ada apa Rio !!!" jawab gue lugas, dengan keyakinan penuh. Rio adalah rekan gue ketika masih bekerja di sebuah lembaga konsultan di bilangan Depok.

"Ini bapak, saya dari Bank X. Bank dimana bapak menjadi nasabahnya."
"Oh iya, benar saya nasabah bank tersebut. Ada keperluan apa ya ?" gue menjawab dengan bahasa yang formal sambil tersenyum kecut dalam hati. Malu dah gue, dipikir Rio. Abis mirip suaranya, eh tahu-tahunya dari bank.

"Ini Pak, kami menawarkan....bla...bla...." Pria itu pun mulai menjelaskan sesuatu, yang akhirnya dengan segera gue sadari bahwa lawan bicara saya adalah sales asuransi. Gue segera melirik jam dinding, sekitar jam 13.00 WIB. Dua hal alasan kenapa gue ngeliat jam, pertama gue pengen tahu jam berapa biasanya sales menghubungi calon pembeli dan kedua berapa lama yang dibutuhkan mereka untuk menawarkan produknya. Cerdik nih orang dalam hati gue, dia memilih ga lama selepas makan siang untuk ukuran kantor. Biasanya orang yang abis makan siang, bawaannya santai bukan ??? Saat yang tepat untuk menawarkan sesuatu. Eeit...tapi ga berlaku bagi semua orang karena kebetulan saat itu gue blom makan dan kerjaan gue di komputer blom selesai. Apalagi yang dihubungi rumah bukan kantor.

"Oh iya iya" jawab gue sabar, berupaya mendengarkan penjelasan pria tersebut. Jujur saat itu gue dihadapkan 2 pilihan sulit, segera mengakhiri pembicaraan yang pastinya tidak menghargai sales tersebut atau melayaninya dengan waktu yang relatif lama (maaf... pengalaman pribadi, dulu gue beberapa kali menghadapi yang namanya team marketing atau sales).

Akhirnya setelah berapa lama, pria tersebut menjelaskan maksudnya, akhirnya dia berkata...
"Maaf Bapak, sekarang profesinya apa ?"
Sontak gue tercenung dalam hati... dan sontak juga gue mendapatkan sebuah jawaban jitu.
"Oh...PENGANGGURAN" jawab gue lugas tanpa perlu BERBOHONG dan merasa MALU.
"O...begitu ya, kalau begitu terimakasih Pak" Dengan segera SANG SALES menutup teleponnya.
"Nah lo...langsung ditutup ???" kata gue, sambil melirik jam dinding, ga sampe 10 menit. Gue tersenyum menang.

Ternyata ga jauh dari tempat gue terima telepon tadi, bokap gue lagi makan.

"Kenapa ?" tanya beliau
"Biasa dari asuransi..." jawab gue pendek
"Saya pikir juga begitu tadi" kata bokap
"Tadi gue ditawarin asuransi, eh pas dia tanya pekerjaan, gue langsung jawab aja pengangguran. Eh...langsung ditutup." Gue berusaha menjelaskan seringkas mungkin.

Bokap gue malah ketawa, lalu bilang : "Tepat kau jawab itu"
"Abis kalo diikutin lama pak... kebetulan pas ditanya pekerjaan yah...gue jawab aja pengangguran. Eh.. bener kan dia yang tutup teleponnya duluan" Kembali gue ketawa puas. Seharusnya pria tersebut mengecek ulang data gue yang tertera di bank, itupun kalau dia menguasai data yang diperoleh. Bukankah nomor yang dihubungi nomor rumah dan bukankah seseorang yang berada di rumah ketika siang hari umumnya pensiunan, anak-anak, ibu rumah tangga yang notabene bukan pekerja aktif alias tidak produktif alias tidak mempunyai pendapatan. Ah...bingung juga berusaha memahami cara kerjanya.

Lantas gue ke dapur untuk mengisi perut, sambil tercenung sesaat. Ada 2 kenyataan yang bertolak belakang yang gue pelajari : pertama, terlalu mudah menhindari sales dan yang kedua, oleh karena poin pertama, seorang sales harus lebih piawai menjalankan profesinya.

Gue cuman bisa menyimpulkan beberapa poin dibawah ini :

1. Jobless (pengangguran) merupakan profesi yang (PASTI) dihindari setiap sales.
2. Jika kePASTIan itu benar maka mudahlah menghindari rayuan sales (khusus jika kamu tidak menyukainya).
3. Oleh karena itu seorang sales bukan hanya menjalankan fungsinya sebagai EMPLOYEE/WORKER tapi juga sebagai seorang PROFESIONAL/EXPERT.
4. EMPLOYEE/WORKER hanya menjalankan tugas yang dibebankan SEDANGKAN
PROFESIONAL/EXPERT menguasai tugas yang dibebankan dan mencapai target.
5. Sesungguhnya Profesional Sales atau Expert Marketing adalah ujungnya tombak pemasukan setiap bentuk usaha yang berorientasi profit.

Sekali lagi dari hati yang terdalam, gue tidak bermaksud menyinggung profesi apapun.
Lakukan setiap profesi secara PROFESIONAL bukan hanya sebagai PROFESI maka anda akan dihormati.


with respect

:> ANTz


Lesson Learn

* Di Bangladesh, seseorang menjadi terhormat (Nobel Achiever) karena beliau secara konsisten memberi modal kepada kaum akar rumput (baca jobless).
* Di Indonesia, kaum akar rumput (200 juta orang) menjadi sumber modal/pemasukan potensial bagi kalangan terhormat (baca pengusaha/investor)
Read More :>

Current CO2 level in the atmosphere

 

Media Content

Tab 2.1
Tab 2.2
Tab 2.3
Tab 3.1
Tab 3.2
Tab 3.3

Followers